CINTA Feb 19, '07 12:05 AM
for everyone
Banyak orang-orang dimabuk cinta. Bicaranya puitis dan penuh hasrat; menggebu dan kuat. Bahkan sang maniak cinta pun berujar “jika engkau dalam cinta, jangan katakan Tuhan ada di dalam hatimu, tetapi katakan engkau ada di dalam hati Tuhan”, bahkan cinta pun diartikan demikian musyriknya, sehingga mampu bicara seperti itu. Katanya, cinta dapat membuat manusia mati demi manusia lainnya. Segalanya akan dilakukan demi yang dicintai. Bahkan seorang gadis mau melepaskan kehormatannya demi lelaki yang dicintai, walaupun belum terikat sumpah pernikahan. Bahkan untuk mengenang cinta, orang-orang membuat satu hari khusus untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada orang yang dicintai dengan memberikan “sesajen” bukti cintanya – coklat – apakah cuman satu hari itu saja kita merayakan dan mengungkapkan cinta kita? Dan apakah hari-hari lain kita tidak memiliki cinta lagi, sehingga harus ada hari cinta? Dan apakah “coklat sesajen” itu adalah bukti dari cinta manusia satu terhadap manusia lainnya?.
Permasalahannya apakah memang benar cinta sebagaimana yang mereka bicarakan dan dengungkan layaknya tertulis dalam roman lama dan kontemporer – mereka bilang abadi dan suci – bahkan hampir seluruh lagu-lagu yang berkicau dewasa ini semua bicara tentang cinta – kalau saya bilang sih lebih mirip ungkapan perasaan seseorang kepada lawan jenisnya, notabene belum tentu tulus dan tentu saja kebanyakan dikarenakan hanya perasaan ketertaikan akan lawan jenis semata dikarenakan penilaian yang berawal dari pandangan mata dan kemudian jatuh ke hati birahi – itu yang mereka artikan cinta, yakni “ungkapan rasa suka” atau sejenis lainnya. Ungkapan rasa suka yang berawal dari pandangan mata zahir?.
Kalau boleh lihat kamus, cinta diartikan sebagai perasaan kasih dan sayang; perasaan cenderung dan terpikat kepada lawan jenis; kawatir; rasa rindu yang teramat dalam; perasaan ingin dimiliki dan memiliki.
Tetapi bagi saya itu bukanlah cinta yang dimaksud, tetapi itu semua adalah hal yang berawal atau bermula dari cinta. Cinta itu tidak dapat didefinisakan. Kasih sayang, pertolongan, rasa suka, perasaan-perasaan membutuhkan, nafsu syahwat dsb, itu semua bukanlah arti dari cinta – sebagaimana yang dipahami khalayak ramai - tetapi itu semua adalah apa-apa yang bermula dari cinta. Cintalah yang membuahi itu semua, seperti kata pepatah “yang melahirkan adalah ibu dan yang dilahirkan adalah anak”, anak tidak melahirkan ibu, kecuali sang anak telah dewasa dan memunculkan individu baru, tentu saja bukan ibu pertama dari anak yang telah menjelma menjadi ibu berikutnya. Demikian juga cinta, jika memang harus diartikan, cinta adalah “sesuatu” yang dianugerahkan Allah kepada kita, yang dapat menimbulkan hal-hal indah, lembut, kasih sayang, kerinduan, penjagaan dari ketersesatan, nasehat dsb. Jadi, cinta adalah cinta itu sendiri.
Cinta itu suci, berawal dari hati bukan pandangan mata zahir – sebagaimana ada lagu yang mengatakan bahwa cinta datang dari mata lalu turun ke hati, itu sama sekali bukan cinta – cinta sebenar datang dari hati, karena fitrah yang berasal dari Yang Kuasa. Dia Allah, Dzat Maha Kuasa yang menuntun kita dalam mencintai sesuatu, apapun itu, karena cinta adalah sesuatu yang ditumbuhkan oleh Yang Kuasa, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Mencintai, karenanya tanpa kita menatap sesuatu, kita sudah dapat mencintai sesuatu itu. Tidak ada cinta kecuali tumbuh karena Allah. Tidak ada cinta kecuali berniat mencintai karena Allah. Tidak ada cinta kecuali berjalan di atas titian aturan mencintainya. Karenanya cinta memiliki tingkatan, yang menggambarkan kepada siapa kita menjatuhkan cinta dan bagaimana caranya kita menjatuhkan cinta itu. Jika benar siapa dan bagaimana cara kita mencitai, maka benar pula cintanya. Gunakanlah cinta sesuai dengan tingkatannya dan tempatnya. Jika tidak maka sesuatu yang kita sebut cinta itu bukanlah cinta melainkan bisikan kejahatan iblis yang membisikkan birahi ke dalam dada dan mengaku dirinya adalah cinta.
Cinta yang terendah adalah cinta kepada harta benda dunia. Cintailah dunia hanya sebagai sarana dan pemanfaatan dalam segala usaha kita beribadah kepada_Nya, tidak lebih dari itu. Yunus bin Abdul A’la berkata, “Permisalan dunia tiada lain hanyalah seperti seseorang yang tidur kemudian ia mimpi sesuatu yang disukainya atau dibencinya. Pada saat demikian kemudian ia terbangun”, dunia ibarat fatamorgana dan mencintainya ibarat bermimpi yang kemudian akan hilang saat kita terjaga.
Cinta tingkat selanjutnya, adalah cinta kepada sesama manusia. Cinta kepada sesama manusia berupa rasa simpati (rasa tertarik, rasa kasih, rasa setuju kepada yang dicintai), empati (keadaan mental yang mempengaruhi jiwa seseorang sehingga menganggap pikirannya sama dengan pikiran orang yang dicintai), dan rindu (keinginan bertemu dan memandang, keinginan untuk bisa berjumpa dan bersatu). Ketiga jenis rasa cinta tersebut – simpati, empati, dan rindu – memiliki tingkatan yang berbeda juga, secara berurut-turut, menunjukkan jenjang cinta yang meninggi. Buah dari ketiga jenis cinta sesama manusia tersebut menumbuhkan; dari simpati lahir dakwah, dari empati timbul persaudaraan antar sesama, dan dari rindu tumbuh kasih sayang.
Cinta di atas cinta kepada sesama manusia adalah cinta kepada Rasulullah dan Al Islam. Cinta kepada Rasulullah dan Al Islam adalah cinta yang melahirkan apa yang disebut dengan mesra; perasaan dekat, lengket dan berpadu benar, sangat akrab, sangat erat, dan mendalam sekali kepada Rasulullah dan Al Islam. Cinta kepada Rasulullah dan Al Islam menjadikan kita sebagai pengikutnya, membelanya dari orang-orang yang memusuhinya, dan meninggikan risalahnya demi tersebarnya ajaran cinta yang sebenarnya; Islam rahmatan lil ‘alamin.
Dan cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla, yang hanya dengan_Nya kita menyembah, taat, sujud, hidup dan mati. Cinta kepada Sang Khalik menjadikan kita sebagai hamba yang mengabdi pada_Nya. Cinta kepada Sang Khalik adalah cinta yang mendasari dari seluruh jenis cinta yang lain, karena kecintaan kita kepada Sang Khalik maka lahirlah cinta kita kepada dunia, sesama, dan Rasul serta Al Islam. Cinta kepada Sang Khalik lah cinta yang sesungguhnya, karena cinta kepada_Nya kita sanggup mengorbankan segalanya – harta, jiwa dan raga – cinta kepada_Nya adalah cinta yang abadi dan hakiki, kepada Sang Khalik lah air mata cinta kita alamatkan. Cinta_Nya lah yang membuat si lemah menjadi tegar, si gopoh menjadi teliti, menyabarkan saat kita kesusahan, menumbuhkan ketenangan sangat gudah gulana berhembus pada jiwa yang resah. Cinta_nya lah yang membuat kita ada. Cintailah Ia, maka kita tak akan pernah kecewa.
Itu adalah tingkatan, alamat, dan perangai dari cinta. Cinta yang dibuat dan jatuh karena_Nya. Cinta yang bermula dari fitrah hati, bukan tatapan mata yang bermuara pada shahwat semata kemudian mengaku cinta. Cinta bukanlah sekedar rasa suka semata. Mencintai tidak harus membuat hati kita bergetar. Jatuh cinta bukanlah hanya sekedar lutut menjadi lesu dan bibir tak harus kelu.
Lantas kalau sudah cinta bicara, apakah pantas coklat menjadi bahasanya?. Lalu pantaskah hari cinta hanya sehari dalam setahun? Sementara setiap hari ada tangisan kelaparan, setiap hari ada penindasan, setiap hari korup dan kolusi menggrogoti negeri, setiap hari ada penyesatan dan penyimpangan ajaran Tuhan. Lalu masihkah kita mengungkapkan cinta hanya sehari dalam setahun? Sementara di utara ada pencabulan, di selatan ada pembantaian, di barat ada penipuan dan pengembangan hedonisme, di timur ada penghancuran budaya.
Sekarang saatnya mari kita kembalikan cinta kepada makna sebenarnya. Kita arahkan cinta kepada tujuan hakikatnya. Kita letakkan cinta sesuai dengan tingkatannya, ungkapkan sesuai dengan alamatnya. Mari kita perbaiki cinta kita dengan berniat mencintai hanya karena Nya, Allah Azza wa Jalla.
